Warga Binaan Lapas Muara Tebo Sulap Serbuk Menjadi Karya yang Bernilai Seni

162 views

Muara Tebo — Di balik dinding pemasyarakatan, kreativitas menemukan ruang untuk tumbuh. Dari serbuk kayu yang kerap dianggap tak bernilai, lahir karya-karya unik yang menyimpan ketekunan, keterampilan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Inilah bagian dari pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan oleh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Muara Tebo, Kamis (15/10).

Melalui pendampingan petugas kegiatan kerja, Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berkreasi mengolah limbah serbuk kayu menjadi beragam kerajinan tangan, mulai dari miniatur naga, guci, asbak, hingga bentuk kendaraan seperti motor dan mobil. Proses pembuatannya dimulai dengan mengayak serbuk kayu hingga halus, kemudian mencampurnya dengan perekat berbahan nasi sisa dan tambahan lem. Adonan tersebut dibentuk sesuai desain, lalu dijemur hingga mengeras dan menjadi kerajinan bernilai seni.

BACA JUGA:  Tingkatkan Akurasi Data, Jajaran Lapas Karanganyar Ikuti Sosialisasi Satu Data Pemasyarakatan

Staf Kegiatan Kerja, Albert Willy Marbun, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan produk kerajinan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kreativitas dan keterampilan warga binaan.

“Melalui pembinaan ini, kami ingin mendorong warga binaan agar terus berkreasi dan mampu melihat peluang dari bahan-bahan sederhana di sekitar mereka. Limbah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai seni dan berpotensi bernilai ekonomi,” ujarnya.

BACA JUGA:  Kepala KPLP Lapas Kelas I Bandar Lampung Kumpulkan Warga Binaan di Aula Blok C Terkait Hasil Sidak

Salah seorang warga binaan, Misran, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan tersebut. “Saya senang bisa ikut pembinaan ini karena dapat belajar membuat kerajinan dengan tangan sendiri. Selain menambah keterampilan, kegiatan ini membuat saya lebih semangat dan memiliki bekal untuk dikembangkan setelah kembali ke masyarakat,” tuturnya.

Bagi Lapas Muara Tebo, setiap karya bukan hanya tentang bentuk dan keindahan. Ada proses belajar, kepercayaan diri, dan kesempatan untuk berubah. Sebab, dari bahan sederhana pun, sesuatu yang berharga dapat tercipta ketika ketekunan bertemu dengan kesempatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *