Palembang – Bagi Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Kemang Agung, pakan menjadi salah satu kebutuhan utama dalam budidaya. Dengan harga pelet sekitar Rp25.000 per kilogram dan kebutuhan 20 hingga 30 kilogram per bulan, kelompok yang telah berjalan selama dua tahun mulai mengembangkan alternatif pakan secara mandiri.
Upaya tersebut didukung Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Integrated Terminal Palembang melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) KABISA (Kemang Agung Berdaya Inovatif Sejahtera) dengan menggelar pelatihan pembuatan pelet ikan pada Rabu (30/9).
Diikuti tujuh anggota kelompok, kegiatan menghadirkan Dinas Perikanan Kota Palembang sebagai pemateri untuk memberikan pengetahuan teknis pengolahan bahan alternatif, seperti eceng gondok dan limbah ikan sungai, menjadi pakan ikan.
Kelompok saat ini mengelola sembilan kolam berukuran 3 x 4 meter untuk budidaya ikan lele, betok, dan toman. Selain pelatihan, Pertamina memberikan mesin penepung, mesin pembuat pelet, serta keramba jaring tancap. Dalam tahap awal, kelompok telah melakukan uji coba produksi sekitar 5 kilogram pelet dan diharapkan dapat mengembangkannya sesuai kebutuhan budidaya.
Salah satu anggota kelompok, Chairul Anwar, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru yang dapat membantu kelompok mengurangi ketergantungan terhadap pelet komersial.
“Selama ini harga pelet menjadi salah satu pengeluaran yang cukup besar dalam pemeliharaan ikan. Melalui pelatihan ini, kami mendapat pengetahuan tentang cara membuat pakan alternatif secara mandiri. Kami berharap ke depan bisa memproduksi pelet secara rutin sehingga biaya pemeliharaan lebih ringan,” ujar Chairul.
Lurah Kemang Agung, Budi Laksana, mengapresiasi pendampingan Pertamina yang dinilai dapat memperkuat keterampilan dan kemandirian masyarakat dalam mengembangkan budidaya ikan.
“Kami berterima kasih kepada Pertamina yang telah memberikan perhatian dan pendampingan kepada masyarakat Kelurahan Kemang Agung. Harapan kami, pengetahuan dan bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara konsisten, sehingga kelompok nelayan semakin mandiri dan mampu mengembangkan kegiatan yang produktif,” ujar Budi.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan pemberdayaan masyarakat diarahkan pada penguatan kemampuan yang dapat dikembangkan secara mandiri.
“Melalui KABISA, kami berharap Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Kemang Agung dapat memanfaatkan pengetahuan dan sarana yang diberikan untuk meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus membuka peluang pengembangan usaha ke depan,” ujar Rusminto.
Program KABISA menjadi bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Palembang dalam memperkuat kapasitas dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Inisiatif ini turut mendukung SDGs, khususnya Tujuan 1, 2, 8, dan 12 melalui penguatan ekonomi, dukungan sektor perikanan, peningkatan produktivitas, serta pemanfaatan sumber daya secara efisien. Upaya tersebut juga sejalan dengan Asta Cita ke-8 dalam memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam dan budaya.

