Peserta Magang Lapas Terbuka Kendal Kembangkan Produksi Telur Asin Guna Mendukung Ketahanan Pangan

137 views

Kendal – Lapas Terbuka Kendal terus mengembangkan inovasi dalam mendukung program ketahanan pangan melalui pemanfaatan hasil peternakan menjadi produk olahan bernilai tambah. Kali ini, peserta magang bersama warga binaan mengembangkan produksi telur asin menggunakan telur bebek yang dihasilkan dari peternakan Lapas, Sabtu (10/10).

Sebanyak 43 butir telur bebek diolah menjadi telur asin dengan memanfaatkan campuran garam dan abu sekam. Kedua bahan tersebut digunakan dalam proses pengasinan yang berlangsung selama 12 hari. Melalui metode ini, telur bebek yang semula dipasarkan atau dimanfaatkan sebagai hasil peternakan segar dapat diolah menjadi produk pangan dengan nilai guna yang lebih beragam.

Proses pembuatan telur asin dilakukan oleh peserta magang bersama warga binaan dengan pendampingan petugas, Ayom Kusumo. Dalam kegiatan tersebut, peserta terlibat langsung mulai dari penyiapan bahan hingga proses pengolahan telur. Keterlibatan ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan kreativitas, keterampilan teknis, serta kemampuan mengoptimalkan potensi yang tersedia di lingkungan Lapas.

BACA JUGA:  Lapas Cibinong Bersama Dokter Hewan Veteriner UPTD Puskeswan Periksa Hewan Ternak Hasil Pembinaan Warga Binaan

Bagi peserta magang, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi pengalaman langsung untuk mengembangkan kreativitas dan menambah wawasan mengenai pengolahan hasil peternakan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana kolaborasi antara peserta magang, warga binaan, dan petugas dalam mengembangkan kegiatan yang produktif.

Ayom Kusumo menyampaikan bahwa pembuatan telur asin merupakan salah satu langkah untuk memperluas pemanfaatan hasil peternakan. Menurutnya, telur bebek tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk konsumsi langsung, tetapi juga diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

“Melalui pengolahan telur asin ini, kami mencoba memanfaatkan hasil peternakan agar memiliki lebih banyak nilai guna. Prosesnya membutuhkan ketelatenan, mulai dari persiapan bahan hingga menunggu pengasinan selama 12 hari. Harapannya, kegiatan ini dapat terus dikembangkan menjadi salah satu produk olahan pangan dari Lapas Terbuka Kendal,” ujar Ayom.

BACA JUGA:  Hadirkan Toko Pertama di Lampung, UNIQLO Jawab Kebutuhan dan Antusiasme Masyarakat Terhadap Fashion

Selain diolah menjadi telur asin, telur bebek yang dihasilkan dari peternakan Lapas juga dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan populasi ternak. Sebagian telur diproses melalui penetasan menggunakan mesin penetas telur otomatis. Pemanfaatan tersebut menjadi bagian dari pengelolaan hasil peternakan secara terpadu, baik untuk menghasilkan produk pangan maupun mendukung keberlanjutan budidaya unggas.

Kepala Lapas Terbuka Kendal, Nu’man Fauzi, menyampaikan bahwa optimalisasi hasil peternakan merupakan bagian dari komitmen Lapas dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus memperkuat program pembinaan kemandirian warga binaan.

“Ketahanan pangan tidak hanya tentang menghasilkan bahan pangan, tetapi juga bagaimana mengelola dan mengembangkan hasil produksi agar memberikan manfaat yang lebih luas. Kami mendorong setiap potensi yang ada di Lapas untuk dimanfaatkan secara optimal, mulai dari budidaya ternak, penetasan telur, hingga pengolahan produk pangan,” ungkap Nu’man Fauzi.

BACA JUGA:  Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Lapas Muara Tebo Meriahkan Olahraga Bersama Dalam Pererat Sinergi Antar Instansi

Melalui inovasi produksi telur asin dan pemanfaatan mesin penetas otomatis, Lapas Terbuka Kendal terus mengembangkan pengelolaan peternakan yang terintegrasi. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil produksi, memperluas variasi produk pangan, serta mendukung pelaksanaan pembinaan kemandirian warga binaan secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *