Pengajian Tausyiah di Masjid Nur Hidayah Mengingatkan Warga Binaan Tentang Kematian

383 views

Betiklampung.com, Kotabumi –

Suasana khidmat menyelimuti Masjid Nur Hidayah Rutan Kelas IIB Kotabumi. Para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berkumpul untuk mengikuti pengajian tausyiah agama yang menghadirkan Ustadz Syakir Al Hazmi, M.E.Sy., sebagai pemateri.

Dalam ceramahnya, Ustadz Syakir mengangkat tema tentang kematian, sebuah topik yang mengingatkan setiap manusia akan kepastian hidup yang fana. Beliau menjelaskan bahwa menjelang ajalnya, seseorang akan melihat Malaikat Maut. Kisah Nabi Adam ‘alaihissalam turut disampaikan, di mana beliau sempat lupa pernah memberikan 40 tahun umurnya kepada Nabi Dawud. Hal ini dikaitkan dengan fenomena umum bahwa banyak orang yang hendak meninggal menjadi pelupa.

BACA JUGA:  Penyerahan Remisi HUT RI Ke- 77, Gubernur Arinal Ajak Warga Binaan Lapas Bandarlampung Ikut Berkontribusi Dalam Pembangunan

Selain itu, Ustadz Syakir juga menceritakan kekuatan luar biasa Nabi Musa ‘alaihissalam, yang dikatakan setara dengan delapan laki-laki kuat. Dalam satu riwayat, ketika Malaikat Maut datang mencabut nyawanya, Nabi Musa marah dan memukulnya hingga copot matanya.

Tausyiah semakin menggetarkan hati saat pemateri menggambarkan dahsyatnya sakaratul maut. Rasa sakit menjelang kematian disebut lebih pedih daripada digergaji hidup-hidup atau dimasukkan ke dalam air mendidih. Namun, bagi orang beriman, kematian akan terasa lebih ringan. Ruhnya akan keluar dengan lembut, seperti air yang mengalir dari kendi, dikelilingi malaikat yang menjaga ketenangan. Sebaliknya, bagi orang yang kufur, ruhnya akan dipaksa keluar dengan kasar hingga tercabik-cabik.

BACA JUGA:  Kajati Nanang Sigit Yulianto Resmikan Renovasi Masjid Ar Ridho Kejati Lampung

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 11.10 WIB hingga menjelang azan zuhur ini berjalan dengan tertib dan penuh perhatian. Pengajian ini menjadi momen refleksi bagi para WBP untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan mempersiapkan kehidupan setelah kematian.