Palembang – Di Kelurahan Talang Betutu, Kota Palembang, limbah rumah tangga yang dulu dianggap masalah kini berubah menjadi sumber penghidupan. Di balik perubahan tersebut, ada sosok Rusli (48), warga setempat yang melihat peluang dari limbah minyak jelantah.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Mahmud Badaruddin II mendampingi pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan yang digerakkan Rusli bersama warga.
Berawal dari keresahan terhadap limbah rumah tangga, Rusli mengajak masyarakat mengolah minyak jelantah melalui inovasi UMKM PASTA 30 (Pakan Ampas dari Minyak Jelantah). Limbah tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi pakan ternak dan ikan, lilin aromaterapi, serta bahan baku biosolar yang bernilai ekonomi sekaligus membantu mengurangi pencemaran lingkungan.
“Awalnya kami hanya ingin lingkungan lebih bersih, tetapi ternyata limbah ini bisa memberi tambahan penghasilan bagi warga. Sekarang masyarakat mulai melihat limbah sebagai peluang,” ujar Rusli.
Perubahan pun mulai terasa. Warga yang sebelumnya terbiasa membuang limbah kini mulai memilah dan mengelolanya. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, program ini juga menghadirkan sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat.
Sepanjang tahun 2025, kelompok ini mampu mengelola sekitar 8,5 ton minyak jelantah setiap bulan dan menghasilkan rata-rata 2,5 ton produk pasta. Dari pengelolaan tersebut, kelompok memperoleh omzet sekitar Rp76 juta per bulan dari minyak jelantah serta Rp5 juta per bulan dari produk pasta.
Upaya Rusli bersama warga Talang Betutu mendapat apresiasi melalui penghargaan ProKlim Utama Tahun 2023 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Juara Harapan 1 Lomba Kampung Kreatif Kota Palembang Tahun 2025.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan bahwa kisah Rusli menunjukkan perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana.
“Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel meyakini keberlanjutan tidak hanya dibangun melalui operasional bisnis, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Apa yang dilakukan Pak Rusli menunjukkan bahwa permasalahan lingkungan dapat diubah menjadi peluang peningkatan kualitas hidup,” ujar Rusminto.
Upaya ini menjadi bukti bahwa pengelolaan limbah bersama dapat menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekaligus ekonomi masyarakat. Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

