Betiklampung.com, Metro —
Dalam mempersiapkan pelaksanaan program pelatihan kemandirian bagi Warga Binaan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Metro menggelar kegiatan Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) terhadap 80 orang Warga Binaan, pada Jum’at, (25/07).
Sidang TPP ini merupakan tahapan penting yang harus dilalui oleh calon peserta pelatihan kemandirian, dengan tujuan untuk memastikan bahwa mereka memenuhi syarat dari segi perilaku, kesiapan mental, serta kelayakan administratif sebelum mengikuti program pelatihan.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari langkah antisipatif guna menjamin pelaksanaan pelatihan berjalan tertib, aman, dan tanpa menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban (kamtib) di dalam lingkungan pemasyarakatan.
Sidang tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik, Ade Hari Setiawan, serta dihadiri oleh anggota TPP dari berbagai unsur struktural di lingkungan Lapas Metro.
Dalam keterangannya, Ade Hari Setiawan menjelaskan bahwa TPP memiliki peran strategis dalam memastikan proses pelatihan berjalan optimal dan tepat sasaran.
“Sidang TPP ini kami lakukan untuk menilai kesiapan Warga Binaan secara komprehensif. Bukan hanya soal kelayakan administratif, tetapi juga perilaku dan komitmen mereka dalam mengikuti pembinaan. Kami ingin memastikan bahwa pelatihan nanti dapat berjalan produktif tanpa mengganggu stabilitas keamanan,” ujar Ade.
Menurut Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Silahuddin, menyampaikan bahwa program pelatihan kemandirian merupakan bagian dari pembinaan integral yang bertujuan mempersiapkan Warga Binaan agar memiliki keterampilan yang bermanfaat ketika kembali ke masyarakat.
“Kami ingin membekali mereka dengan keterampilan riil. Oleh karena itu, seleksi awal ini sangat penting, agar pelatihan benar-benar diikuti oleh Warga Binaan yang serius dan layak,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Metro, Tunggul Buono, memberikan apresiasi atas kerja keras tim yang terlibat dalam sidang TPP serta menegaskan pentingnya pendekatan yang cermat dan profesional dalam setiap tahapan pembinaan.
“Sidang TPP juga sebagai tahap awal dalam proses pelatihan kemandirian. Dari sini kita bisa mengukur sejauh mana Warga Binaan siap mengikuti program secara disiplin dan produktif. Kami ingin setiap pelatihan benar-benar menghasilkan dampak positif, baik untuk individu yang bersangkutan maupun bagi lingkungan Lapas secara keseluruhan,” ujar Kalapas dalam keterangannya.
Tunggul juga menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat sistem pembinaan berbasis keterampilan di Lapas Metro. “Pembinaan kemandirian merupakan salah satu indikator keberhasilan Lapas. Dengan pelatihan yang terarah dan terukur, kami berharap Warga Binaan mampu menjadi pribadi yang mandiri dan siap berkontribusi positif saat kembali ke tengah masyarakat,” tandasnya.
Program pelatihan kemandirian di Lapas Metro merupakan bagian dari strategi besar Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam memberikan pembinaan yang holistik dan berkelanjutan kepada Warga Binaan, sehingga mampu menekan angka residivisme dan meningkatkan integrasi sosial pasca-pembebasan.
Rencananya, pelatihan kemandirian yang akan dilaksanakan di Lapas Metro berupa pelatihan Agrobisnis Pertanian, Kimia Industri, Las dan Roasting Kopi, yang diharapkan mampu meningkatkan produktifitas warga binaan.

