Maggot Ubah Sampah Jadi Kemandirian, Inovasi Hijau Warga Binaan Lapas Banyuasin

426 views

Banyuasin — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuasin terus berinovasi melalui program pembinaan kemandirian berbasis lingkungan. Salah satu program unggulan yang kini berkembang pesat adalah budidaya larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Seperti yang terlihat pada hari ini, Jumat (05/12/2025), warga binaan dibimbing oleh petugas mengelola maggot sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah organik sekaligus peningkatan produktivitas ekonomi.

Secara lingkungan, maggot berfungsi mengurai sampah organik yang berasal dari dapur lapas dan lingkungan sekitar. Sedangkan dari sisi ekonomi, budidaya ini menghasilkan pupuk organik (kasgot) serta menyediakan sumber protein hewani alternatif yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembinaan lainnya.

BACA JUGA:  Kalapas Kelas I Bandarlampung Menjadi Narasumber Dalam Kegiatan Raimuna Daerah VI Lampung

Pemanfaatan maggot menjadi strategi utama dalam mengurangi biaya pakan untuk kolam ikan lele yang juga dikelola Lapas Banyuasin. Budidaya lele merupakan bagian dari program ketahanan pangan dan pelatihan keterampilan bagi warga binaan.

Dengan memproduksi maggot sendiri, Lapas dapat menekan ketergantungan terhadap pakan pabrikan yang selama ini menjadi biaya paling dominan. Kandungan protein maggot yang tinggi membuat pertumbuhan lele tetap optimal, sementara biaya operasional berkurang drastis.

Kepala Lapas Kelas IIA Banyuasin melalui Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Beni Irawan, menegaskan bahwa program ini selaras dengan arah pembinaan modern.
“Budidaya maggot dan lele ini bukan hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membentuk pola pikir mandiri dan berkelanjutan. Penghematan biaya pakan sangat signifikan dan membantu keberlanjutan program pembinaan,” jelasnya.

BACA JUGA:  Lakukan Ulas Data Dukung RKT RB, Kanwil Kemenkumham Lampung Kunjungi Rupbasan Kelas I Bandar Lampung

Sementara itu, Staf Kegiatan Kerja, Pebryanto, menjelaskan bahwa warga binaan juga dilibatkan penuh dalam proses pengelolaan, mulai dari pengumpulan sampah organik hingga panen maggot.

“Kami melihat antusiasme warga binaan sangat tinggi. Mereka belajar mengelola maggot secara profesional, memahami siklus produksinya, hingga memanfaatkannya sebagai pakan lele. Program ini menjadi pengalaman berharga yang bisa mereka gunakan setelah bebas nanti,” ujar Pebryanto.

Ia menambahkan bahwa hasil panen maggot yang stabil turut mendukung peningkatan produksi lele, sehingga kegiatan ini semakin memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi unit kerja.

BACA JUGA:  Karutan Farizal Antony Beserta Jajaran Rutan Sukadana Ikuti Apel Bersama, Menteri HAM Ajak Seluruh Jajaran Perkuat Kolaborasi Berikan Pelayanan Terbaik

Inisiatif ini menjadi bukti bahwa pembinaan di Lapas Banyuasin tidak hanya difokuskan pada pemasyarakatan, tetapi juga diarahkan pada penciptaan model usaha yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan mampu membuka peluang ekonomi bagi warga binaan.