Lampung Dorong Investasi Energi Hijau, Proyek Bioetanol Siap Dikembangkan

137 views

Lampung Selatan – Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Lampung mempercepat pengembangan industri bioetanol melalui peninjauan langsung calon lokasi pembangunan pabrik bioetanol dan kawasan pengembangan bahan baku sorgum di Provinsi Lampung, Selasa (9/6/2026).

Kunjungan tersebut dipimpin Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM RI Todotua Pasaribu bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal usai menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinergitas Pembangunan Pabrik Bioetanol yang berlangsung di Ruang VVIP Lounge Bandara Raden Inten II, Lampung Selatan.

Rombongan yang terdiri dari jajaran Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Toyota Tsusho Corporation, Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PTPN, akademisi, dan para pemangku kepentingan lainnya meninjau lokasi calon pembangunan pilot plant bioetanol di Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, serta kawasan pengembangan budidaya sorgum di Kecamatan Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan, ketersediaan bahan baku, dukungan infrastruktur, serta integrasi kawasan yang akan menjadi bagian dari pengembangan ekosistem industri bioetanol di Lampung.

Dalam rapat koordinasi dan sinergitas proyek pembangunan bio etanol Provinsi Lampung, Todotua Pasaribu menegaskan bahwa Lampung menjadi salah satu daerah prioritas dalam pengembangan bioetanol nasional.

Menurutnya, provinsi ini memiliki berbagai keunggulan strategis, mulai dari ketersediaan bahan baku yang melimpah, infrastruktur yang memadai, hingga komitmen kuat pemerintah daerah dalam mendukung investasi.

Todotua menjelaskan bahwa kebutuhan bioetanol nasional diperkirakan akan terus meningkat seiring implementasi program campuran E10 bioetanol pada bahan bakar bensin yang ditargetkan mulai diterapkan secara bertahap pada tahun 2028.

BACA JUGA:  Pemprov Lampung Dorong Sinergi Bangun Gerai dan Pergudangan Koperasi Desa Merah Putih

Karena itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan industri bioetanol guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

“Kita tidak boleh hanya berhenti pada perencanaan. Yang dibutuhkan sekarang adalah eksekusi agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” tegas Todotua.

Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan bahwa pembangunan industri bioetanol merupakan langkah strategis dalam mendorong hilirisasi sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurut Gubernur, Lampung memiliki modal besar untuk menjadi pusat bioetanol nasional karena merupakan salah satu lumbung pangan Indonesia dengan produksi padi, jagung, ubi kayu, pisang, kopi, serta komoditas perkebunan dan peternakan yang sangat besar. Bahkan hampir enam juta penduduk Lampung menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

Rahmat Mirzani Djausal mengungkapkan bahwa perbaikan tata kelola komoditas pertanian dalam beberapa tahun terakhir telah berdampak positif terhadap kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Lampung bahkan berhasil melampaui rata-rata nasional.

Meski demikian, ia menilai peningkatan produksi pertanian harus dibarengi dengan pembangunan industri pengolahan agar komoditas yang dihasilkan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

“Dengan produksi ubi kayu yang mencapai sekitar 7,5 juta ton per tahun, Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok utama bahan baku bioetanol nasional. Kehadiran industri bioetanol akan menciptakan pasar baru bagi petani, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan nilai tambah hasil pertanian Lampung,” ujar Gubernur.

BACA JUGA:  Pemprov Lampung Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Eliminasi TBC

Ia juga menambahkan bahwa Lampung memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, panas bumi, biomassa hingga bioenergi yang berasal dari limbah pertanian dan industri. Potensi tersebut menjadi modal penting dalam mendukung agenda transisi energi nasional.

Dari sisi industri, CEO PNRE John Anis menjelaskan bahwa pengembangan bioetanol di Lampung dilakukan melalui kolaborasi dengan Toyota Tsusho Corporation dan Green Earth Institute (GEI) Jepang.

Menurutnya, Lampung memiliki posisi strategis karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah, terutama singkong yang selama ini menjadi komoditas unggulan daerah.

John mengungkapkan bahwa pengembangan bioetanol tidak hanya memanfaatkan molases dan singkong sebagai bahan baku bioetanol generasi pertama, tetapi juga memanfaatkan biomassa sorgum dan limbah perkebunan sawit sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua.

“Salah satu fokus kami adalah mengembangkan teknologi yang mampu mengubah limbah pertanian menjadi energi bernilai tinggi sekaligus menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” ujarnya.

PNRE saat ini tengah mempersiapkan pembangunan pilot plant bioetanol generasi kedua yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027. Selain itu, perusahaan juga mengkaji reaktivasi fasilitas bioetanol eksisting dengan kapasitas produksi sekitar 60 ribu kiloliter per tahun.

BACA JUGA:  Lampung Siaga Hadapi Serangan Siber, BSSN Dorong Pembentukan TTIS di Kabupaten/Kota

Kawasan di Kecamatan Tegineneng yang ditinjau dalam kunjungan tersebut diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan fasilitas pengolahan bioetanol, sedangkan kawasan di Kecamatan Rejosari direncanakan sebagai pusat pengembangan budidaya sorgum yang akan mendukung pasokan bahan baku industri bioetanol generasi kedua.

Sebagai bagian dari penguatan rantai pasok bahan baku, PNRE juga akan bekerja sama dengan Universitas Lampung untuk melaksanakan uji tanam sorgum seluas 10 hektare sebagai tahap awal pengembangan budidaya di Lampung.

Melalui sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Lampung, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional, proyek bioetanol ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Lampung sebagai pusat hilirisasi pertanian dan energi terbarukan nasional, sekaligus menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Sebagai bentuk komitmen bersama terhadap percepatan proyek tersebut, kegiatan diakhiri dengan penandatanganan Join Declaration antara Pemerintah Provinsi Lampung, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan Toyota Tsusho Indonesia. (kmf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *