Lampung – Dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan penguatan respons kebijakan yang konsisten, pre-emptive dan terukur guna menjaga ketahanan ekonomi.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menjelaskan, posisi cadangan devisa 2026 tercatat sebesar USD148,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, sehingga memberikan ruang yang memadai bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta ketahanan sektor eksternal.
“Dalam menjaga stabilitas pasar keuangan, Bank Indonesia memperkuat koordinasi dengan pemerintah, termasuk melalui langkah pembelian Surat Berharga Negara (SBN) saat dibutuhkan serta penjualan SBN pada waktu yang tepat sesuai kondisi pasar. Daya tarik instrumen domestik juga tetap dipertahankan agar aliran modal masuk tetap terjaga,” ungkapnya.
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, memperkuat daya tarik aset domestik, serta memastikan kecukupan likuiditas guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Koordinasi dengan Pemerintah dan komunikasi kebijakan dengan mitra kerja juga menjadi langkah penting yang akan terus dijalankan untuk menjaga ekspektasi serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sekaligus menekan defisit neraca berjalan yang semakin melebar, Pemerintah Pusat bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan sejumlah instansi terkait terus bersinergi dalam merumuskan berbagai kebijakan strategis.

