Bandar Lampung — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh tiga siswa SD Fransiskus 2 Rawalaut Bandar Lampung. Tiga Siswa SD yaitu Nicholas Onggarahardja, Jeselyn Charissa Abuyanin, dan Bagas Arka Saksono berhasil meraih Juara 1 Dancow Indonesia Cerdas Season 2 tingkat nasional.
Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sekolah, tetapi juga menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan di SD Fransiskus 2 Rawalaut Bandar Lampung.mampu melahirkan generasi muda yang cerdas, tangguh dan berkompetisi di tingkat nasional.
Prestasi tersebut berhasil mereka raih setelah melewati rangkaian kompetisi yang mempertemukan peserta dari 15 provinsi di Indonesia. Perjalanan menuju panggung nasional tidak selalu mudah. Ketiganya sempat menghadapi tekanan, rasa lelah, hingga ancaman eliminasi.
Kini, keberhasilan itu mendapat apresiasi khusus dari sekolah. Dalam apel penyerahan penghargaan di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, Selasa (18/8/2026), ketiga siswa menerima medali dan sertifikat sekaligus resmi menyandang status Duta Cendekia SD Fransiskus 2 Bandar Lampung.
Kepala SD Fransiskus 2 Rawalaut Bandar Lampung, Sr. M. Paulis FSGM, M.Pd., mengaku bangga atas pencapaian anak didiknya. Menurutnya, keberhasilan Nicholas, Jeselyn, dan Bagas menunjukkan bahwa siswa Lampung mampu bersaing dengan peserta dari berbagai daerah di tingkat nasional.
“Kami sangat bangga dan sangat bersyukur dengan prestasi tingkat nasional yang diperoleh anak-anak kami, Niko, Bagas, dan Jesslyn dalam perlombaan Cerdas Cermat Anak Indonesia Hebat yang diselenggarakan juga oleh DENCOW dan Indosiar.” ungkapnya.

Suster Paulis menilai kemenangan tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik. Ketiga siswa juga memperlihatkan disiplin, kerja keras, kekompakan, kemampuan menyusun strategi, serta daya juang selama kompetisi.
“Dalam hal ini kami sangat bersyukur karena kami, anak-anak kami mampu bersaing dengan 14 provinsi lainnya. Dan puji Tuhan anak kami mendapat juara pertama,” ujarnya.
Lebih jauh, sekolah ingin menjadikan pencapaian tersebut sebagai pemacu untuk meningkatkan pendampingan terhadap siswa, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
Perjalanan kompetisi nasional memberikan pengalaman berbeda bagi ketiga siswa. Bagas Arka Saksono, misalnya, mengaku merasakan suasana yang naik turun selama mengikuti perlombaan.
“Seru-seru saja, tetapi kadang ada down-nya, ada naiknya. Kadang seru, kadang bikin stres,” ujar Bagas. Siswa yang menyukai bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) itu tetap berusaha fokus menghadapi berbagai pertanyaan dalam kompetisi.
Pengalaman serupa dialami Jeselyn Charissa Abuyanin. Ia mengaku sempat sedih dan stres ketika timnya menghadapi babak eliminasi. “Pada episode pertama kami sudah mau masuk babak eliminasi. Waktu itu rasanya sedih dan stres karena sudah mau tereliminasi. Tetapi akhirnya kami lolos ke episode selanjutnya,” tutur Jeselyn.
Setelah melewati masa sulit tersebut, semangat tim kembali tumbuh. Jeselyn bahkan menganggap kesempatan bertemu peserta dari berbagai daerah sebagai salah satu pengalaman paling menyenangkan. “Ada 15 provinsi di sana, jadi sangat seru kami bisa mengenal teman dari berbagai daerah,” ungkapnya.
Nicholas Onggarahardja juga menyimpan cerita tersendiri selama mengikuti kompetisi. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai perpaduan antara keseruan, tekanan, dan rasa lelah. “Seru, cuma stres dan terkadang ngantuk,” kata Nicholas.
Jadwal kompetisi yang padat menjadi salah satu tantangan. Para peserta harus bangun sekitar pukul 06.00 WIB dan berangkat ke studio sekitar pukul 07.00 WIB. Mereka kemudian mengikuti rangkaian kegiatan hingga malam hari.
Selain stamina, kompetisi juga menuntut ketelitian. Nicholas mengingat sejumlah soal yang membutuhkan kemampuan memahami kode dan gambar. Meski melelahkan, pengalaman tersebut membawa keuntungan lain. Ketiga siswa mendapatkan teman baru dari berbagai wilayah Indonesia dan belajar menghadapi kompetisi dalam suasana yang berbeda.

Dukungan orang tua turut mengiringi perjalanan ketiga siswa hingga meraih gelar juara nasional. Erika, orang tua Bagas, mengaku bangga melihat perjuangan anak-anak selama mengikuti kompetisi. Ia juga mengapresiasi guru yang terus mendampingi mereka.
“Perjuangan kalian luar biasa. Sepuluh hari berjuang, mental naik turun, fisik juga naik turun. Akhirnya bisa juara satu,” ujar Erika. Ia juga bersyukur karena ketiga siswa mendapat kesempatan membawa nama sekolah hingga tingkat nasional.
“Alhamdulillah, terima kasih juga kepada Tuhan Yang Maha Esa yang sudah memberikan kesempatan ini untuk anak-anak kami bisa menjadi juara satu nasional,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga. Prestasi itu juga membawa nama SD Fransiskus 2 Bandar Lampung ke tingkat nasional.
Setelah meraih juara nasional, Nicholas, Jeselyn, dan Bagas kini memiliki tanggung jawab baru sebagai Duta Cendekia SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Sekolah berharap ketiganya tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Mereka nantinya dapat berbagi pengalaman dan memberikan pelatihan kepada peserta cerdas cermat lainnya.
Suster Paulis menilai pengalaman ketiga siswa selama kompetisi bisa menjadi bekal berharga untuk membantu teman-temannya. “Dan itu dibuktikan oleh mereka. Sehingga setiap sesi, setiap episode mampu mereka lewati dengan segala upaya, dengan segala kerja keras, kerjasama, dan keuletan, ketekunan, juga semangat,” kata Suster Paulis.
Ia juga menyoroti kemampuan ketiganya untuk bangkit setelah menghadapi tekanan. “Meskipun down tapi mampu segera mengatasi down-nya itu dan mereka bangkit lagi, survive lagi. Itu yang sangat kami kagumi,” lanjutnya. Karena itu, gelar juara nasional sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap proses panjang yang mereka jalani.
Bagi SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, prestasi Nicholas, Jeselyn, dan Bagas bukan sekadar tambahan koleksi penghargaan. Kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, kekompakan, disiplin, dan daya juang mampu membawa siswa Lampung bersaing di panggung nasional. Kini, sebagai Duta Cendekia, ketiganya diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk berani berkompetisi, terus belajar, dan pantang menyerah. (*)

