Bandar Lampung – Rutinitas pagi di blok hunian Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Bandar Lampung, Kamis (22/01), terasa lebih cair dan hangat. Jauh dari kesan formalitas birokrasi, Kepala Lapas (Kalapas) Kelas I Bandar Lampung, Ike Rahmawati turun langsung ke lapangan bukan untuk memerintah melainkan untuk mendengar.
Didampingi jajaran pejabat struktural, Kalapas mengumpulkan warga binaan di tengah blok hunian. Tanpa podium dan protokoler yang kaku, Kalapas membuka ruang diskusi dua arah. Ia mempersilakan warga binaan untuk berbicara, menyampaikan keluh kesah, hingga memberikan masukan terkait layanan di dalam Lapas.
“Pagi ini kita ngobrol santai saja. Saya dan pejabat struktural ada di sini untuk kalian. Jangan sungkan, kalau ada kendala soal makanan, kesehatan, atau layanan lainnya, sampaikan sekarang. Kami siap dengar dan tindak lanjuti,” ujar Kalapas Ike saat membuka percakapan.
Suasana yang dibangun secara kekeluargaan ini membuat warga binaan merasa lebih dihargai. Beberapa dari mereka tampak antusias menyampaikan aspirasi secara langsung tanpa perantara. Respons cepat pun langsung diberikan oleh pejabat terkait di lokasi.
Langkah ini dinilai efektif sebagai “katup pelepasan” untuk meredam potensi stres warga binaan. Dengan pola komunikasi yang terbuka, sumbatan informasi dapat dihilangkan, menciptakan rasa percaya antara petugas dan warga binaan.
“Keamanan itu bukan cuma soal gembok yang kuat, tapi juga soal hati yang tenang. Kalau aspirasi mereka tersalurkan, suasana blok pasti lebih kondusif,” pungkas Ike usai kegiatan.

