Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Kembangkan UMKM Berbasis Upcycling di Desa Banu Ayu

140 views

Palembang – Bagi sebagian orang, wearpack bekas mungkin hanya berakhir sebagai limbah. Namun di Desa Banu Ayu, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), bahan yang tak lagi terpakai itu justru menjadi awal lahirnya peluang usaha bagi delapan ibu rumah tangga. Di tangan mereka, wearpack bekas disulap menjadi berbagai produk yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi pada Sabtu (4/7).

Melalui Program Gelora Banu Ayu, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Fuel Terminal (FT) Baturaja mendampingi Kelompok Konveksi Bumi Ayu untuk mengolah wearpack operasional yang sudah tidak digunakan, kain perca, dan sisa bahan konveksi menjadi berbagai produk seperti keset, celemek, bantal kursi, lap anti panas, tatakan wajan, hingga bantal tidur. Pendekatan yang digunakan adalah _upcycling_, yaitu mengolah material bekas menjadi produk baru dengan nilai guna dan nilai jual yang lebih tinggi.

BACA JUGA:  Plh Pasi Intel Kodim 0410/KBL Hadiri Pembukaan Rapat Koordinasi persiapan Pra-Tahapan Pemilu dan Pemilihan Serentak 2024

Kelompok yang diresmikan pada 11 Mei 2026 ini beranggotakan delapan ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya menerima jasa jahit dalam skala kecil atau belum memiliki pekerjaan tetap. Selama proses pendampingan, mereka mengikuti enam kali pelatihan yang mencakup teknik menjahit, pembuatan pola, desain produk, quality control, branding, pembukuan, hingga manajemen usaha sederhana.

Kini, sekitar 300 produk telah dihasilkan dan dipasarkan melalui WhatsApp, promosi dari mulut ke mulut, serta berbagai bazar UMKM di Kabupaten OKU. Produk yang paling diminati masyarakat antara lain keset, celemek, bantal kursi, dan lap anti panas karena fungsional dan terjangkau.

Ketua Kelompok Konveksi Bumi Ayu, Evi Widia, mengatakan program tersebut mengubah cara pandang anggotanya terhadap barang bekas.

“Dulu kami menganggap wearpack bekas tidak lagi berguna. Sekarang kami tahu, dengan kreativitas dan kemauan belajar, limbah bisa menjadi produk yang diminati sekaligus menambah penghasilan keluarga,” ujar Evi.

BACA JUGA:  DPRD Lampung Rubah Alat Kelengkapannya , Ini Komposisi Terbaru!

Dalam dua bulan terakhir, kelompok berhasil memanfaatkan sekitar 30 kilogram limbah tekstil, terdiri atas 10,3 kilogram wearpack bekas dan 18–20 kilogram kain perca yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah. Dari hasil produksi tersebut, kelompok membukukan omzet lebih dari Rp10 juta dengan rata-rata pendapatan anggota sekitar Rp1,5 juta.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan Program Gelora Banu Ayu menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa barang yang tidak lagi digunakan masih memiliki nilai ketika diolah dengan kreativitas. Melalui program ini, kami tidak hanya membuka peluang usaha bagi perempuan, tetapi juga mendorong tumbuhnya praktik ekonomi sirkular yang memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Rusminto.

BACA JUGA:  Tingkatkan Pelayanan Kesehatan, Kepala Rutan Pemalang Jalin Kerjasama dengan Puskesmas Kebondalem

Program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 5 (Kesetaraan Gender), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *